Sabtu, 30 Mei 2026
  • Ahlan wasahlan di Forum Pondok Pesantren Kabupaten Bekasi
  • Ahlan wasahlan di Forum Pondok Pesantren Kabupaten Bekasi

PULANGNYA SANG MUROBBI RUH

Share ke berbagai media , klik button dibawah ini

Innaalillahi wainnaa ilahi rojiuun, Jumat sore, 16 Januari 2026, sekitar pukul 15.00 WIB, suasana dunia pesantren di Kabupaten Bekasi seakan mendadak diselimuti duka yang dalam. Kabar wafatnya KH. Nurhayadi, M.Pd, pimpinan Pondok Pesantren Sirajul Ummah, Karang Bahagia, meninggal dunia begitu tiba-tiba, tanpa tanda, tanpa isyarat yang disangka-sangka. Seolah langit sedang cerah, seketika runtuh di dada para santri, kiai, dan penggerak pesantren.

Tak ada yang menyangka, sosok yang selama ini dikenal sebagai murobbi ruh (pembina jiwa dan penguat langkah) akan secepat itu kembali ke hadirat Allah SWT. Bahkan sehari sebelumnya, Kamis sore, beliau masih sempat menelpon Ketua Umum Forum Pondok Pesantren (FPP) Kabupaten Bekasi, KH. Suryadi Zaini, SE. Percakapan itu bukan percakapan singkat. Hampir satu jam lebih, penuh dengan sapaan hangat, menanaykan kondisi Bu Nyai yang sedang sakit sudah hampir 2 pekan di rumah sakit, canda ringan, sekaligus pembahasan serius tentang masa depan perjuangan pesantren.

Dalam percakapan tersebut, almarhum menyampaikan banyak arahan strategis terkait pergerakan Forum Pondok Pesantren Kabupaten Bekasi. Beliau berbicara dengan penuh semangat, kejernihan visi, dan ketulusan seorang pendidik sejati. Tak ada yang menyadari bahwa kata-kata itu kelak akan dikenang sebagai arahan terakhir; sebuah wasiat sunyi dari seorang pejuang pendidikan Islam.

Allah yarham KH. Nurhayadi. M.Pd bukan sekadar pimpinan pesantren. Ia adalah penyambung ruh perjuangan, pengikat hati para kiai, dan penenang bagi para penggerak pesantren yang kerap lelah di tengah tantangan zaman. Sosoknya sederhana dan dermawan, pandangannya jauh, lembut dalam tutur kata, tetapi tegas dalam prinsip dan arah perjuangan.

Saat kabar wafatnya menyebar, gelombang manusia datang tanpa dikomando. Ribuan orang; santri, alumni, para kiai, tokoh masyarakat, dan penggerak pesantren memadati Pondok Pesantren Sirajul Ummah. Mereka datang untuk satu tujuan: berziarah, mendoakan, menshalatkan, dan mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhir. Isak tangis terdengar lirih di sela-sela doa. Banyak yang terdiam, tak sanggup berkata-kata, hanya menunduk menahan kehilangan.

Prosesi pemakaman berlangsung khidmat. Tanah yang menutup jasad beliau seakan menutup satu bab penting dalam perjalanan pesantren di Bekasi. Namun, warisan perjuangannya tak pernah terkubur. Justru di sanalah ia dititipkan di hati para murid dan sahabat perjuangan.

Kepergian KH. Nurhayadi. M.Pd meninggalkan tanggung jawab besar, bahwa perjuangan membangun dan menguatkan pesantren tidak boleh berhenti, arahan-arahan terakhir beliau bukan untuk dikenang semata oleh para Pengurus FPP Kab. Bekasi, tetapi untuk dilanjutkan dan diwujudkan.

Hari ini, Forum Pondok Pesantren Kabupaten Bekasi kehilangan pembimbing ruhani. Namun pesantren-pesantren di Bekasi mendapatkan amanah: menjaga api perjuangan yang telah beliau nyalakan. Sebab sejatinya, sosok seperti Allah yarham KH. Nurhayadi. M.Pd tidak benar-benar pergi. Mereka hidup dalam nilai, arah, dan keberanian kita untuk terus menebar manfaat khususnya bagi seluruh pondok pesantren di Kabupaten Bekasi.

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Selamat jalan, Kiai.

Kami bersaksi bahwa engkau seorang Murabbi ruh yang tak akan pernah kami lupakan, wasiatmu akan kami jaga, perjuanganmu akan kami lanjutkan.
Semoga Allah taála menerima segala amal baikmu
Semoga Allah taála ampunkan segala salah dan khilafmu
Semoga Allah taala lapangkan kuburmu
Semoga Allah taala pertemukan kita semua disurga di surga firdaus-Nya. Aamiin

Artikel ini memiliki

8 Komentar

Tinggalkan Komentar